-
Sejarah Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun
Tahun 1963 menjadi tonggak penting dalam kelahiran Gereja Katolik di Gondangwingun dengan dibelinya tanah beserta bangunan rumah joglo di Dukuh Minggiran, Desa Plawikan, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten. Tahun 1964 bangunan kecil di atas tanah tersebut diberkati dan dijadikan sebagai kapel. Dengan peristiwa kepemilikan dan pemberkatan ini, kegiatan ibadat dan kegiatan-kegiatan kegerejaan semakin intensif dilaksanakan. Tahun 1969–1970 rumah joglo direhab dan dimodifikasi sedemikian rupa sehingga lebih layak sebagai gereja. Pada bulan juni 1970 kapel yang sudah selesai direhab diberkati dan sekaligus memilih Santo Yusuf Juru Karya sebagai pelindung Gereja Gondangwinangun. Tahun 1973 Gereja Gondangwinangun menjadi Gereja Stasi yang merupakan bagian dari reksa pastoral Paroki Santa perawan maria Bunda Kristus Wedi. Tahun 1980 Paroki Santa perawan maria Bunda Kristus Wedi mengubah pola sentralisasi menjadi desentralisasi (lebih dikenal dengan istilah paroki federatif). Sejak tahun ini, stasi-stasi diberi kewenangan untuk mengelola pembangunan fisik, pembangunan jemaat dengan bimbingan dan didampingi para Rama yang berkarya di Paroki Santa perawan maria Bunda Kristus Wedi.
Gagasan tentang paroki muncul pertama kali ketika pada tahun 1980 diselenggarakan audiensi dengan Bapa Kardinal Yustinus Darmayuwana, Pr. Bapa Kardinal memberi saran supaya Gondang tidak usah minta menjadi paroki karena jika tiba saatnya dengan sendirinya akan menjadi paroki.
Tahun 1985 Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi menerapkan sistem kepengurusan ”PANCAPRAMANA” yaitu kepengurusan dewan paroki yang terdiri dari pengurus-pengurus stasi yang ada di Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi. Model ini semakin mempertegas Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi sebagai paroki federatif. Sejak saat itu kepengurusan stasi semakin diberdayakan karena lebih mirip dengan kepengurusan sebuah paroki.
Pada tahun 1998, gagasan sebagai paroki muncul lagi secara lebih serius. Gagasan ini ditanggapi secara positif oleh Presidium Dewan Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi. Tanggapan tersebut kemudian disikapi oleh para pengurus Dewan Stasi Santo Yusup Juru Karya Gondangwinangun. Para pengurus kemudian mengadakan persiapan secara lebih kongkrit menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan keparokian. Persiapan-persiapan tersebut berupa pembangunan jemaat dan pembangunan sarana fisik.
Tahun 2000 keinginan untuk menjadi paroki disampaikan kepada Bapak Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignatius Suharya, Pr., pada saat audiensi dengan wakil umat setelah penerimaan Sakramen Krisma di Gereja Santo Yusup Juru Karya Gondangwinangun. Waktu itu Bapak Uskup memberi lampu hijau, tetapi masih ada kendala yaitu jumlah imam yang sangat terbatas. (Pada saat itu, dua dari tiga rama yang menggembalakan Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi tengah menjalani perawatan di rumah sakit karena mengalami musibah kecelakaan lalu lintas.)
Sejak tahun 2001 keinginan dan persiapan untuk menjadi paroki semakin intensif diupayakan. Mulai Januari 2003, persiapan Stasi Santo Yusup Juru Karya Gondangwinangun menjadi Paroki diagendakan dalam rapat Presidium Dewan Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi. Sejak itu segala persiapan dilaporkan kepada Dewan Paroki. Salah satu langkah yang ditempuh oleh Dewan Stasi Santo Yusup Juru Karya Gondangwinangun adalah mengajukan permohonan secara resmi kepada Bapak Uskup Agung Semarang dengan harapan Bapak Uskup berkenan menanggapi dan meluluskan serta meresmikan Gereja Stasi Santo Yusup Juru karya Gondangwinangun menjadi Paroki. Permohonan itu diterima dan Gondangiwinangun resmi menjadi Paroki pada 1 Mei 2004 dengan berlindung pada Santo Yusuf Pekerja. Ketika berdiri paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinagun mempunyai 12 lingkungan dan 3 wilayah.
Pada tahun 2004 hingga tahun 2012 paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun terdiri atas 12 lingkungan dan 3 wilayah. Dalam perkembangannya pada tahun 2013 paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun mengalami pemekaran lingkungan dan wilayah yaitu dari 12 lingkungan dan 3 wilayah menjadi 28 lingkungan dan 7 wilayah. Pada tahun 2017 ada pemekaran lingkungan lagi sehingga menjadi 29 lingkungan. Sedangkan kepengurusan Dewan paroki telah mengalami empat periode kepengurusan yakni: Periode pertama tahun 2004–2007, periode kedua tahun 2007–2009, periode ketiga 2010–2012 dan periode ke empat tahun 2013–2015. Periode ke lima 2016-2018, periode ke enam 2019-2021 dan periode ke tujuh 2022-2024. Pada periode satu dan dua pergantian pengurus dewan paroki dilaksanakan pada pertengahan tahun sedangkan mulai periode 3 dan 4 hingga kini pergantian kepengurusan dilaksanakan pada akhir tahun (tahun periode).
Pastor yang pernah berkarya di Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun sejak 1 Mei 2004 :
-
Rm. Bernardinus Saryanto Wiryaputra, Pr. 1 Mei 2004 sampai 1 Agustus 2004 sebagai Pastor Kepala
-
Rm. Paulus Susanto Prawirowardoyo, Pr. 1 Mei 2004 sampai 26 Januari 2015 sebagai Pastor Pembantu
-
Rm. Augustinus Toto Supriyanto, Pr. 1 Agustus 2004 sampai 15 Juli 2011 sebagai Pastor Kepala
-
Rm. Ignatius Sukawalyana, Pr. 15 Juli 2011 sampai 15 September 2017 sebagai Pastor Kepala
-
Rm. Paskalis Bayu Edvra, Pr. 26 Januari 2015 sampai 16 Agustus 2016 sebagai Asistensi Tetap
-
Rm. Fransiskus Xaverius Endra Wijayanta, Pr. 15 September 2017 sampai 1 Agustus 2021 sebagai Pastor Paroki
-
Rm. Petrus Dwi Purnomo Adi, Pr. 15 Juli 2018 sampai 1 Agustus 2021 sebagai Vikaris Paroki
-
Rm. Robertus Hardiyanta, Pr. 1 Agustus 2021 sampai sekarang sebagai Pastor Paroki
-
Perkembangan Umat
Sejak berdiri tahun 2004, perkembangan umat di Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun mengalami perkembangan meskipun tidak signifikan. Hal ini terlihat dari data umat tahun 2005, satu tahun setelah berdiri, umat Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun terdata sebanyak 2.905 jiwa. Tujuh tahun berikutnya, tercatat 2.930 jiwa. Pada tahun 2018 naik menjadi 2.998 jiwa dan data terakhir tahun 2022 tercatat 2.995 jiwa. Dari data tersebut terlihat bahwa dari sejak berdiri hingga sekarang perkembangan umat sebanyak 90 jiwa.
-
Pengembangan Fisik Gereja dan Kapel
Ketika berdiri, paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun sudah memiliki satu Gereja induk dan tiga kapel yaitu :
-
Gereja Induk terletak di Dusun Minggiran, Desa Plawikan, Kecamatan Jogonalan, Klaten dengan luas tanah 2.945
-
Kapel Fransiscus Xaverius Wilayah Mateus terletak di Dusun Talun, Desa Prawatan, Kecamatan Jogonalan dengan luas tanah 348
-
Kapel Sasana Sewaka Santo Paulus Wilayah Markus terletak di Dusun Sabrangan, Desa Gumul, Kecamatan Karangnongko dengan luas tanah 564
-
Kapel Fransiskus Xaverius Wilayah Lukas terletak di Dusun Klampokan, Desa Granting, Kecamatan Jogonalan dengan luas tanah 472
Selain itu, ada beberapa aset yang dimiliki seperti TK Indriyasana bertempat di Joton dengan luas tanah 113 ,
Dalam perjalanan waktu, ada penambahan aset tanah dan pembangunan fisik sebagai berikut :
-
Penambahan aset tanah
-
Tahun 2009 mendapatkan hibah tanah dan bangunan (Wisma Hilarius) dengan luas 698
-
Tahun 2010 mendapatkan hibah tanah dengan luas 214 terletak di Desa Sumyang.
-
Tahun 2014 pembelian tanah depan gereja induk sisi kanan (sekarang lahan parkir gereja, kantor CU, dan aula) dengan luas 515
-
Tahun 2015 Pembelian tanah depan gereja induk dengan luas 420
-
Tahun 2019 mendapatkan hibah tanah dan bangunan yang luas 3800 dari Rm. Gregorius Utomo, Pr. yang berlokasi di Desa Rejoso.
-
Tahun 2022 pembelian tanah depan Kapel Markus digunakan sebagai tempat parkir dengan luas 108
-
Pembangunan Fisik
-
Tahun 2010-2011 pengadaan bangku gereja sebanyak 148 swadaya umat
-
Tahun 2015 pembuatan menara lonceng.
-
Tahun 2015 pembuatan area parkir.
-
Tahun 2022 pembangunan Kapel Fransiskus Xaverius Granting.
